Drama Abiss! Langit Yang Meneriakkan Nama Yang Sama



Aroma dupa sandalwood menyengat hidung Lan Wangji setiap pagi. Ia benci aroma itu, tapi ia terpaksa menghirupnya. Ia terlahir kembali sebagai pemilik galeri seni modern di Shanghai yang ramai. Dulu, di kehidupannya yang lain, ia adalah seorang jenderal perang di era Dinasti Tang. Sebuah kehidupan yang berakhir dengan pengkhianatan.

Mimpinya selalu sama: padang rumput luas berlumuran darah, kuda meringkik panik, dan wajah seorang pria yang tersenyum sinis sambil menghunus pedang. Pria itu selalu buram, seperti lukisan yang sengaja dihapus sebagian. Namun, nama itu... nama itu selalu terngiang di kepalanya saat bangun: WEI YING.

Lan Wangji benci nama itu. Wei Ying. Sebuah simfoni kemarahan, kesedihan, dan kebencian yang membara di dadanya.

Suatu sore, seorang kolektor bernama Jiang Cheng memasuki galerinya. Pria itu kaya, berpengaruh, dan memiliki tatapan mata yang... familer. Jiang Cheng tertarik pada sebuah lukisan abstrak berwarna merah darah. "Lukisan ini... membangkitkan sesuatu," gumamnya, suaranya serak.

Setiap pertemuan dengan Jiang Cheng seperti pecahan kaca yang menusuk ingatan Lan Wangji. Potongan-potongan masa lalu mulai menyatu. Tawa Wei Ying yang dulu begitu memabukkan, kini terdengar seperti cemoohan. Janji setia yang dulu diucapkannya, kini terasa seperti kutukan.

Lalu, suatu malam, saat hujan mengguyur Shanghai, Lan Wangji bermimpi jelas. Ia melihat Wei Ying, bukan sebagai teman seperjuangan, tapi sebagai musuh dalam balutan senyum. Wei Ying, yang haus kekuasaan, bersekongkol dengan musuh untuk menjatuhkannya. Demi takhta, Wei Ying menghancurkan segalanya.

Pria buram itu... bukan lagi buram. Wajahnya kini jelas. Wajah Wei Ying.

Balas dendam? Lan Wangji tidak menginginkan darah. Ia tidak menginginkan kematian. Ia hanya ingin membalikkan takdir. Jiang Cheng ingin berinvestasi di galeri Lan Wangji. Sebuah investasi yang akan menjamin kesuksesan, pengaruh, dan kekayaan.

Lan Wangji menolaknya.

Jiang Cheng terkejut. "Kau yakin? Kau tahu apa yang kau lewatkan?"

Lan Wangji tersenyum tipis. "Aku sangat yakin."

Ia melihat raut kekecewaan di wajah Jiang Cheng. Kecewa karena ditolak, kecewa karena kehilangan kesempatan, kecewa karena... sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lan Wangji tahu. Di kehidupan sebelumnya, ambisi Wei Ying menghancurkannya. Di kehidupan ini, penolakan Lan Wangji akan menghancurkan ambisi Jiang Cheng. Balas dendam yang paling halus. Bukan dengan pedang, tapi dengan keputusan.

Ia menatap langit Shanghai yang mendung. Nama itu, Wei Ying, tetap terngiang di kepalanya. Rasa sakit itu, pengkhianatan itu, tetap ada.

Di kehidupannya yang selanjutnya, mungkin, ia akan bertemu lagi dengannya, di bawah langit yang lain, meneriakkan nama yang sama, dan mungkin, mungkin, saat itu… luka ini akan sembuh.

You Might Also Like: 163 Kekurangan Pelembab Lokal Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post