Air Mata yang Menjadi Badai Langit
Angin dingin menyapu debu dari reruntuhan Istana Timur, tempat di mana Mei Lan pernah bermimpi menjadi ratu. Dulu, di sanalah ia tertawa, menari di bawah rembulan, dan menerima janji abadi dari pangeran yang kini mengkhianatinya. Cinta, yang pernah ia genggam erat, kini hanya serpihan kaca yang melukai telapak tangannya. Kekuasaan, yang ia percayakan buta, telah merenggut segalanya. Dikhianati. Dijual demi tahta.
Mei Lan masih ingat jelas malam itu. Malam ketika Pangeran Li Wei, kekasihnya, menikahi putri dari Jenderal Agung, demi mengamankan posisinya sebagai pewaris tahta. Malam ketika air matanya jatuh, bukan karena kesedihan, melainkan karena keputusan. Keputusan untuk bangkit. Keputusan untuk MEMBALAS dendam.
Wajahnya, yang dulu polos dan penuh senyum, kini dihiasi garis-garis tipis ketegasan. Mata indah itu, yang dulunya memancarkan kelembutan, kini menyimpan badai yang mengintai. Ia berjalan melewati puing-puing, bukan sebagai Mei Lan yang dulu, melainkan sebagai Ratu Tanpa Nama, wanita yang akan membangun kerajaannya sendiri dari abu.
Ia memulai dari bawah. Menyamar sebagai seorang tabib, ia menyembuhkan luka-luka para prajurit yang terlupakan, para petani yang kelaparan, dan para budak yang menderita. Di mata mereka, ia menemukan harapan. Di hati mereka, ia menanamkan kesetiaan. Kekuatan Mei Lan bukanlah pedang yang berkilauan, melainkan ketenangan yang mematikan. Ia merencanakan, menyusun strategi, dan menunggu.
Bertahun-tahun berlalu. Li Wei, kini Kaisar, memerintah dengan tangan besi. Kekaisarannya gemuk karena korupsi dan rapuh di dalam. Ia lupa akan wanita yang pernah dicintainya, wanita yang kini telah menjelma menjadi bayangan yang menghantuinya.
Saat yang dinantikan tiba. Mei Lan, dengan pasukannya yang setia, bergerak seperti air bah. Mereka tidak menyerbu dengan amarah, melainkan dengan efisiensi dingin. Satu per satu, benteng Kaisar jatuh. Satu per satu, sekutunya berkhianat.
Pertempuran terakhir terjadi di gerbang Istana Kekaisaran. Li Wei, yang dilanda kepanikan, menatap Mei Lan dengan ketakutan. Ia tidak melihat wanita yang pernah dicintainya. Ia melihat hantu dari masa lalunya.
"Mengapa, Mei Lan? Mengapa kau melakukan ini?" tanyanya, suaranya bergetar.
Mei Lan tersenyum tipis. "Kau telah merenggut segalanya dariku. Sekarang, aku akan mengambilnya kembali. Lebih dari segalanya."
Pertempuran itu singkat. Li Wei dikalahkan, bukan oleh pedang Mei Lan, melainkan oleh kesadarannya akan dosa-dosanya. Ia kehilangan segalanya: tahta, kehormatan, dan cinta.
Mei Lan berdiri di atas reruntuhan Istana Kekaisaran, memandangi kerajaannya yang baru. Ia tidak menjadi ratu dengan mahkota berlian. Ia menjadi ratu dengan luka dan kebangkitan. Angin menyapu rambutnya yang panjang, membawa bisikan janji masa depan.
Di sanalah ia berdiri, seorang wanita yang pernah hancur, kini lebih kuat dari sebelumnya. Di dadanya, luka itu masih terasa, tapi tidak lagi menyakitkan. Luka itu adalah pengingat. Pengingat akan kekuatannya. Pengingat akan takdirnya.
"Inilah mahkota yang kupilih, terbuat dari air mata dan badai, dan kini, aku akan memakainya, untuk selamanya..."
You Might Also Like: 43 Why Choose Honda Civic Over Nissan