Kau Datang Membawa Damai, Tapi Pergi Meninggalkan Perang
Langit berkarat. Bukan metafora. Benar-benar berkarat. Seperti besi tua yang dilupakan di halaman belakang Tuhan. Di bawah langit itu, di tengah lorong waktu yang berderit, aku, Anya, mengetik pesan untuknya. Atau lebih tepatnya, mencoba mengetik. Sinyalnya menari-nari, seperti kunang-kunang piksel yang sekarat.
Sedang mengetik...
Layar berkedip, menampilkan tiga kata itu. Selalu. Tiga kata yang menjadi mantra, kutukan, sekaligus harapan. Dia, Kai, katanya hidup di masa lalu. Katanya dia melihat dunia sebelum Chrome menjadi warna dominan dan emoji menjadi bahasa ibu. Katanya, dulu matahari masih berwarna kuning, bukan oranye pudar seperti sekarang.
Kami bertemu di glitch. Di celah antara dimensi yang robek oleh kesepian. Pesan-pesan singkat, suara tertawa yang terdistorsi, fragmen kenangan yang tumpang tindih. Aku menceritakan padanya tentang rasa kopi sintetis yang menjadi satu-satunya rasa yang kuingat. Dia menceritakan padaku tentang aroma tanah basah setelah hujan, sesuatu yang hanya bisa kubaca di buku-buku sejarah digital.
Cinta kami tumbuh seperti jamur di reruntuhan. Aneh. Tidak wajar. Tapi nyata. SE NYA TA rasa sakit karena jaringan yang tiba-tiba putus di tengah kalimat.
Kami saling mencari, seperti dua bidak catur yang tersesat di papan yang berbeda. Aku mengirimkan koordinat lokasiku, berharap dia bisa menemukan celah yang sama, melompat melewati waktu, dan memelukku. Dia mengirimkan sketsa wajahnya, berharap aku bisa menemukannya di antara wajah-wajah anonim yang berlalu lalang di jalanan yang dipenuhi drone pengintai.
Tapi, semua sia-sia. Semakin kami mencoba mendekat, semakin jauh kami terlempar.
Suatu malam, saat langit benar-benar hitam dan sunyi (lebih sunyi dari biasanya), Kai mengirimkan pesan yang berbeda. Bukan lagi tentang kenangan masa lalu, bukan lagi tentang harapan masa depan. Melainkan pengakuan.
"Anya," pesannya terbaca, dengan huruf yang bergetar. "Aku... aku bukan hidup di masa lalu. Aku... adalah gema masa lalu. Aku adalah proyeksi dari memori kolektif yang sekarat. Aku tidak nyata."
Pesan itu menghantamku seperti meteor. Lalu, aku MENG-erti. Sinyal yang terputus-putus, dimensi yang terpisah, tiga kata yang selalu muncul di layar — semua itu adalah manifestasi dari kehidupan yang tidak pernah selesai. Aku adalah gema dari masa depan yang tidak akan pernah tiba. Kami, Kai dan aku, adalah fragmen yang mencoba menyatukan diri, tapi terikat selamanya dalam loop yang sama.
Cinta kita bukan cinta. Ini adalah resonansi dari harapan yang mati.
Layar ponselku berkedip sekali lagi. Kali ini bukan sedang mengetik... Tapi pemberitahuan: Sistem gagal.
Dunia di sekitarku mulai runtuh. Piksel demi piksel. Rasa sakit menyebar di seluruh tubuhku, seperti virus yang merusak kode inti keberadaanku.
Sebelum semuanya padam, satu kalimat terakhir muncul di layar, seolah-olah dilukis dengan darah digital:
Apakah kau ingat, sayang, bagaimana rasanya mentari...
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif