Lorong istana diredam dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya gemerisik sutra jubah Kaisar Li Wei yang memecah kesunyian, gema langkahnya menghilang ditelan kegelapan. Kabut tipis merayap dari Taman Giok, menyelimuti ukiran naga yang gagah perkasa, seolah menyembunyikan dosa-dosa yang telah lama terkubur.
Lima belas tahun lalu, Putri Mei Lin, tunangan Putra Mahkota, terjatuh dari tebing di Gunung Cangshan. Semua orang meratapi kematiannya. Tapi malam ini, di tengah kabut yang sama, dia berdiri di hadapan Kaisar. Bukan lagi seorang putri, melainkan wanita berpakaian sederhana, wajahnya tertutup cadar.
"Yang Mulia Kaisar," bisiknya, suaranya bagai desiran angin yang menusuk tulang. "Apakah Anda masih ingat janji yang Anda ucapkan di bawah Bulan Berdarah?"
Kaisar tertegun. Cahaya obor menari di wajahnya yang berkerut, menampilkan keraguan dan ketakutan. "Mei Lin? Mustahil..."
Wanita itu tertawa lirih, suara yang lebih menakutkan dari lolongan serigala. "Mustahil? Bukankah KEMATIAN itu sendiri adalah ilusi, Yang Mulia? Terutama bila kematian itu direncanakan dengan cermat?"
Kaisar mundur selangkah. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Yang Mulia. Selama lima belas tahun, Anda hidup dalam keyakinan bahwa Anda menyingkirkanku. Bahwa saya, gadis naif yang mencintai Putra Mahkota, menjadi batu sandungan bagi ambisi Anda. Anda kira saya mati, terlupakan. Padahal, saya yang justru belajar, merencanakan, dan menunggu."
Dia membuka cadarnya. Wajahnya, meskipun lebih dewasa dan dipenuhi bekas luka, masih menyimpan sisa-sisa kecantikan Putri Mei Lin. Tapi matanya… matanya memancarkan KEGELAPAN yang tak terperi.
"Anda membunuh ayahku, Yang Mulia. Merebut takhta. Mengorbankan kebahagiaanku demi kekuasaan. Anda kira saya bodoh? Anda kira saya tidak tahu rencana Anda untuk menyingkirkan Putra Mahkota setelah Anda naik takhta? Saya hanya berpura-pura. Berpura-pura menjadi bidak yang mudah dikendalikan."
Kaisar terhuyung. Rahasia yang selama ini ia kubur dalam-dalam, akhirnya terungkap. "Kau... kau tahu?"
"Tentu saja. Saya tahu segalanya. Dan malam ini, hutang itu harus dibayar."
Wanita itu mengangkat tangannya. Dari balik kabut, muncul bayangan-bayangan berjubah hitam. Tentara bayaran, setia dan mematikan.
"Anda selalu berpikir bahwa kekuasaan ada di tangan Kaisar, Yang Mulia. Tapi Anda salah. Kekuasaan sejati ada di tangan orang yang tahu bagaimana MENGGUNAKAN rasa takut."
Sebelum Kaisar sempat berteriak, wanita itu memerintahkan: "Habisi dia."
Pedang terhunus. Darah membasahi lantai istana. Kabut semakin tebal, menyembunyikan adegan mengerikan itu.
Wanita itu, yang dulunya Putri Mei Lin, menatap mayat Kaisar. Tidak ada penyesalan di matanya, hanya kemenangan dingin.
"Langit yang menyaksikan dosa-dosa Kaisar," bisiknya pada kegelapan, "ternyata AKU adalah langit itu sendiri."
You Might Also Like: Mastering Microbiology Your Ultimate