Kau Berlutut di Kuburanku, Tapi Aku Sudah Memaafkanmu Sejak Dulu
Kabut tipis menggantung di atas tanah pemakaman yang membeku. Malam itu bukan sekadar dingin; ia merayapi tulang, menusuk jantung, dan meninggalkan bekas luka abadi. Di bawah rembulan pucat, salju tampak merah, bukan karena efek cahaya, melainkan karena darah. Darah yang merembes dari balik jubah sutra hitam seorang pria yang kini berlutut di depan nisan marmer putih.
Nisan itu bertuliskan: "Bai Lianhua. Terlahir untuk dicintai, mati karena dikhianati."
Pria itu, Li Wei, Sang Kaisar yang berkuasa, mendongak. Matanya yang dulu tajam dan penuh perhitungan, kini kosong dan dipenuhi penyesalan. Di tangannya tergenggam dupa yang nyaris padam. Asapnya mengepul, membentuk pusaran seperti kenangan pahit yang enggan pergi.
"Lianhua..." bisiknya, suaranya serak dan pecah. "Lima belas tahun. Lima belas tahun aku hidup dalam neraka yang kurancang sendiri."
Lima belas tahun lalu, Li Wei adalah seorang pangeran yang haus kekuasaan. Bai Lianhua adalah wanita yang dicintainya, sekaligus anak perempuan musuh bebuyutannya. Demi tahta, ia mengkhianati Lianhua, menjebaknya dalam pengkhianatan, dan menyaksikan dengan dingin saat kekasihnya dieksekusi di depan umum.
RAHASIA terpendam itu kini terkuak. Surat wasiat almarhum Kaisar, yang selama ini disembunyikan oleh kasim kepercayaan Li Wei, membuktikan bahwa Lianhua tidak bersalah. Ia adalah korban, pion dalam permainan politik kotor.
Li Wei merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak, merobek jubah kebesarannya, dan menghukum dirinya sendiri. Tapi semua itu percuma. Lianhua telah tiada.
Airmata membeku di pipinya. Di tengah dinginnya malam, aroma dupa bercampur dengan aroma darah dan air mata, menciptakan simfoni kematian yang menyayat hati. Ia mencengkeram tanah, merasakan dinginnya salju yang menyelimuti makam Lianhua.
"Aku bersumpah, Lianhua," katanya dengan suara bergetar, "akan kutumpas semua yang terlibat dalam kematianmu. Akan kubuat mereka merasakan sakit yang kau rasakan. Akan kubakar kerajaan ini hingga menjadi abu demi membalas dendammu."
Janji di atas abu. Janji yang diucapkan di depan makam orang yang dicintai. Janji yang akan ditepati dengan DARAH.
Beberapa bulan kemudian, istana kekaisaran terbakar. Api melahap segalanya, meluluhlantakkan simbol kekuasaan dan kemewahan. Li Wei, yang kini dikenal sebagai Kaisar Berdarah, telah menunaikan janjinya. Ia menghukum mati semua yang terlibat dalam konspirasi kematian Lianhua, dari menteri hingga kasim, dari jenderal hingga selir.
Kerajaan yang dulu makmur kini dilanda perang saudara dan kekacauan. Li Wei duduk di atas tahta yang berlumuran darah, tatapannya kosong. Ia telah mendapatkan balas dendamnya. Tapi hatinya tetap hampa.
Suatu malam, saat salju kembali turun, Li Wei mengunjungi makam Lianhua. Ia membawa sebotol anggur kesukaan Lianhua dan dua cangkir porselen. Ia menuangkan anggur ke dalam cangkir dan meletakkan salah satunya di depan nisan.
"Minumlah bersamaku, Lianhua," bisiknya.
Ia mengangkat cangkirnya dan meneguk anggur itu perlahan. Setelah itu, ia mengeluarkan sebilah pisau belati.
"Kau mungkin sudah memaafkanku, Lianhua. Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Dengan gerakan cepat, ia menusuk jantungnya sendiri. Ia ambruk di depan makam Lianhua, darahnya mewarnai salju di sekitarnya. Matanya menatap langit, seolah mencari Lianhua di antara bintang-bintang.
Saat kesadarannya memudar, ia mendengar suara lembut memanggil namanya.
"Li Wei..."
Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Balas dendam memang manis, tapi kebahagiaan sejati ada dalam kematian yang mendamaikan.
Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
Di antara hembusan angin dingin, seseorang menaburkan bubuk putih di atas makam Bai Lianhua. Bubuk itu beraroma sangat harum. Terlalu harum... karena itu adalah RACUN.
Dan di hari pemakaman Kaisar Li Wei, seluruh anggota keluarga Bai muncul, dengan senyum sinis yang sama.
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Kepiting Bakau