Kabut tebal menggantung di atas Danau Baihu, serupa tabir yang menyembunyikan sejarah kelam keluarga Li. Di sanalah, aku dan Lian tumbuh bersama, di bawah bayang-bayang kuil tua yang menyimpan sumpah persaudaraan abadi. Kami adalah dua serangkai, pedang kembar yang tak terkalahkan, janji kami terukir di hati: Selamanya.
"Lian, kau tahu, di mata air Danau Baihu ini, aku bersumpah akan selalu melindungimu," bisikku suatu senja, saat mentari merekah jingga di permukaan air.
Senyum Lian, seindah bunga teratai, namun menyimpan rahasia dalam. "Aku pun sama, Gege. Kita akan menghadapi dunia bersama."
Waktu berlalu, kami tumbuh menjadi pendekar tangguh, membela kehormatan keluarga Li dari serangan para pemberontak. Namun, di balik setiap kemenangan, bisikan-bisikan curiga mulai merayap. Siapa yang membocorkan strategi kita? Siapa yang bermain api dalam gelap?
Suatu malam, aku menemukan Lian di ruang kerja ayahanda, sedang membaca gulungan kuno yang terlarang. Matanya berkilat aneh, tangannya gemetar.
"Lian? Apa yang kau lakukan?"
Dia terkejut, gulungan itu terjatuh. "Gege… aku hanya ingin tahu…"
"Tahu apa? Katakan padaku! Selama ini, apa yang kau sembunyikan dariku?!"
Senyumnya kembali, kali ini dingin bagai es. "Kau selalu mengira kau yang melindungi, Gege. Padahal, akulah yang menyelamatkanmu dari kebenaran."
Rahasia itu terbongkar perlahan, bagai racun yang menggerogoti jantung. Gulungan itu berisi silsilah keluarga Li yang sebenarnya. Lian, bukanlah saudaraku. Ia adalah anak dari selir yang dikhianati, putra mahkota yang disingkirkan, dan aku… aku adalah anak adopsi, boneka yang dimainkan untuk melindungi takhta yang seharusnya menjadi miliknya.
"Kau… jadi selama ini… semua persahabatan ini… hanya kepalsuan?"
"Cinta yang kau rasakan, Gege, adalah cinta yang kubayar dengan luka. Luka karena aku harus berpura-pura menjadi adik yang lemah, luka karena aku harus menyaksikanmu menikmati hak yang seharusnya menjadi milikku!"
Api amarah membakar jiwaku. Pengkhianatan ini, terlalu dalam, terlalu menyakitkan. Pedangku gemetar di tangan, siap untuk membalas dendam. Pertarungan kami terjadi di bawah rembulan pucat, di tengah badai salju yang menggila. Setiap tebasan pedang, adalah ungkapan kepedihan dan kemarahan yang terpendam.
Lian terluka parah, jatuh bersimpuh di hadapanku. Matanya memancarkan penyesalan yang terlambat.
"Gege… bunuh aku. Aku pantas mendapatkannya."
Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi, siap untuk mengakhiri semua ini. Tapi, saat kulihat wajahnya, wajah saudara yang pernah kucintai, hatiku hancur berkeping-keping.
"Aku tidak bisa, Lian. Aku tidak bisa membunuhmu."
Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat dari kegelapan, menembus dadaku. Aku terhuyung, menoleh ke arah asal anak panah. Di sana, berdiri jenderal kepercayaan ayahanda, wajahnya tanpa ekspresi.
"Maafkan aku, Tuan Muda. Ini demi keselamatan keluarga Li."
Aku ambruk ke tanah, darah mengalir deras. Lian merangkak mendekat, air mata membasahi wajahnya.
"Gege… maafkan aku…"
Pandanganku kabur, napasku tersengal. Kuangkat tanganku, menyentuh wajah Lian untuk terakhir kalinya.
"Aku… selalu… mencintaimu… sebagai saudara…"
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Reseller_23