Endingnya Gini! Tangisan Di Balik Mahkota Yang Retak



Rongga dadanya terasa berlubang, dinginnya menusuk hingga ke tulang sumsum. Lin Yue, Putri Mahkota kekaisaran Giok, terbangun dengan napas tersengal di tengah taman bunga plum yang bermekaran. Bukannya wangi manis yang ia hirup, melainkan aroma besi dan darah yang MEMEKAKKAN indranya.

Ini bukan kamarnya. Bukan pula zamannya.

Dulu, ia adalah Putri Lin Yue, pewaris tahta yang dicintai rakyatnya. Sekarang, ia hanyalah Lin Yue, gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pelayan di kediaman Jenderal besar Kerajaan Yan. Potongan-potongan ingatan, bagaikan pecahan kaca tajam, menyayat benaknya. Pengkhianatan. Pembantaian. Air mata yang mengering di pipi.

Malam demi malam, di bawah rembulan yang pucat, ia bermimpi. Ia melihat wajah-wajah yang dulu dikenalnya. Guru yang mengajarinya kaligrafi. Kasim yang setia melayaninya. Jenderal yang berjanji melindunginya dengan nyawanya. Dan yang PALING menyakitkan, Pangeran Wei, tunangannya, belahan jiwanya... sang pengkhianat.

Setiap mimpi terasa semakin nyata, detailnya semakin jelas. Aroma dupa cendana di kuil leluhur, gemerlap pedang di bawah obor yang menari, dan bisikan Pangeran Wei, "Demi tahta, aku rela mengorbankan APAPUN."

Ia ingat. Semuanya. Pangeran Wei bekerja sama dengan Kaisar Kerajaan Utara untuk menjatuhkan kekaisarannya. Ia membuka gerbang istana dari dalam, membiarkan pasukan musuh masuk, dan menusuknya dari belakang, tepat di jantungnya.

Di kehidupan ini, Pangeran Wei menjelma menjadi Jenderal Li Wei, pria paling berkuasa di Kerajaan Yan. Ia memegang kendali atas pasukan, menentukan kebijakan, dan—ironisnya—dihormati oleh semua orang.

Lin Yue, yang kini hanyalah seorang pelayan, memiliki satu-satunya senjata yang bisa melumpuhkan Jenderal Li Wei: Pengetahuan. Ia tahu kelemahan Jenderal, strategi militernya, bahkan rahasia gelap yang ia kubur dalam-dalam.

Ia tidak akan membalas dendam dengan darah. Ia akan mengukir ulang takdir.

Lin Yue mendekati Putri Qian, satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Yan. Dengan hati-hati, ia menenun kata-kata, menanamkan keraguan, dan membimbing Putri Qian menuju jalan yang benar. Ia membisikkan strategi militer yang cemerlang, mengungkap intrik politik yang tersembunyi, dan membuka mata sang Putri terhadap ancaman yang nyata—Jenderal Li Wei.

Putri Qian, terinspirasi oleh kecerdasan dan kesetiaan Lin Yue, mulai merangkul kekuasaannya. Ia membangun aliansi, mengumpulkan bukti pengkhianatan Jenderal, dan perlahan-lahan, menjeratnya dalam jaring kebenaran.

Puncaknya tiba saat Jenderal Li Wei mencoba menggulingkan Putri Qian. Namun, kali ini, ia sudah terlambat. Putri Qian, berkat bimbingan Lin Yue, berhasil membalikkan keadaan dan menangkap Jenderal atas pengkhianatan.

Hukuman mati dijatuhkan.

Lin Yue menyaksikan eksekusi Jenderal Li Wei dari kejauhan. Tidak ada kepuasan, hanya kehampaan. Ia tidak membalas dendam. Ia hanya memastikan bahwa takdir tidak terulang.

Sebelum Jenderal Li Wei menghembuskan napas terakhirnya, matanya bertemu dengan mata Lin Yue. Di matanya, Lin Yue melihat pengakuan. Ia tahu. Ia tahu bahwa gadis pelayan itu adalah Putri Lin Yue, yang dikhianatinya di kehidupan sebelumnya.

Lin Yue memalingkan muka, meninggalkan masa lalu di belakangnya.

Putri Qian, berhutang budi pada Lin Yue, menawarkan kedudukan dan kekayaan. Namun, Lin Yue menolak. Ia memilih untuk pergi, menyusuri jalan setapak yang sepi, menuju masa depan yang tidak pasti.

Di bawah langit senja yang membara, ia berbisik pada angin, "Kau akan membayar hutangmu, Pangeran Wei… di kehidupan selanjutnya, atau ENTAH KAPAN."

You Might Also Like: 14 Vibrant Canvas Unfinished Paint Old

Post a Comment

Previous Post Next Post