SERU! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis



Aku Mencintaimu di Antara Batas, dan Batas Itu Kian Menipis

Lentera-lentera apung berdansa di permukaan danau berkilauan, pantulannya memecah kegelapan Dunia Roh. Di sinilah aku, Lin, mendapati diriku, tanpa ingatan tentang bagaimana aku sampai di sini. Hanya sisa-sisa mimpi yang kabur, tentang jalanan berdebu dan suara jeritan yang memilukan.

Dunia ini, di mana bayangan berbisikkan rahasia dan bulan mengingat setiap nama yang terucap dalam kesunyian, menyambutku dengan dingin. Aku diajari oleh seorang wanita tua berambut perak bernama Mei tentang cara mengendalikan qi, tentang cara membedakan antara roh yang lapar dan roh yang bijak.

"Kau dipilih, Lin," ucap Mei suatu malam, saat bulan purnama menggantung rendah di langit. "Kematianmu di Dunia Manusia bukanlah akhir, melainkan AWAL."

Kata-kata itu menghantamku seperti badai. Kematian? Aku bahkan tidak ingat pernah hidup!

Namun, sesuatu dalam diriku bergetar, resonansi yang aneh dengan kata-kata Mei. Aku mulai melihat bayangan-bayangan masa lalu—bukan ingatanku sendiri, melainkan potongan-potongan kehidupan seseorang yang mirip denganku. Seorang gadis muda, tertawa di bawah pohon sakura, menulis puisi di tepi sungai, dan… terjatuh, atau didorong, dari tebing yang curam.

Semakin dalam aku menyelami Dunia Roh, semakin tipis pula batas antara dunia ini dan Dunia Manusia. Aku mulai mendengar bisikan-bisikan familiar, melihat wajah-wajah yang terasa dekat namun tak terjangkau. Di antara wajah-wajah itu, ada satu yang menonjol: seorang pria bernama Jian, dengan mata setajam obsidian dan senyum yang menyimpan ribuan rahasia.

Jian muncul dalam mimpiku, dalam bayangan di pepohonan, bahkan dalam riak air di danau lentera. Dia membimbingku, mengajariku tentang bahaya dan keajaiban Dunia Roh. Dia bilang, dia mencintaiku sejak lama.

Namun, ada sesuatu yang ganjil. Jian terlalu sempurna, terlalu berpengetahuan, terlalu… kuat. Dia tahu tentang kematianku di Dunia Manusia, dia tahu tentang takdirku di Dunia Roh. Dia seolah mengatur setiap langkahku.

Suatu malam, saat aku menari di bawah sinar bulan bersama Jian, aku melihat bayangannya bergerak terpisah darinya. Bayangan itu membungkuk, berbisik, dan kemudian… menghilang ke dalam kegelapan.

Saat itu, aku mengerti.

Jian bukanlah kekasihku. Dia adalah penjaraku. Dia bukan membimbingku, tapi MEMANIPULASIKU. Dia adalah dalang di balik kematianku di Dunia Manusia, dan dia menggunakan cinta sebagai tali untuk mengikatku di Dunia Roh.

"Kau tidak mencintaiku, Jian," kataku, suaraku bergetar namun penuh tekad. "Kau hanya mencintai kekuatan yang kumiliki."

Jian tertawa, tawa tanpa kehangatan, tawa yang membekukan darahku. "Kau benar, Lin. Kau adalah kunci untuk membuka gerbang antara kedua dunia. Dan aku yang akan memegang kunci itu."

Pertempuran dimulai. Roh-roh di sekitarku bangkit, terpecah antara kesetiaan pada Jian dan simpati padaku. Aku bertarung dengan segenap kekuatan yang kumiliki, kekuatan yang berasal dari ingatan orang lain, dari amarah kematian yang tak adil, dan dari secercah harapan bahwa cinta yang tulus masih mungkin ditemukan.

Pada akhirnya, dengan bantuan Mei dan roh-roh baik lainnya, aku berhasil mengalahkan Jian. Tubuhnya hancur menjadi debu, meninggalkan hanya riak kosong di antara lentera-lentera apung.

Namun, kemenangan ini datang dengan harga yang mahal. Batas antara dunia semakin menipis, dan aku… aku tidak lagi yakin di mana aku berada. Apakah aku roh yang terjebak dalam mimpi manusia, atau manusia yang tersesat di dunia roh?

Di tengah kebingungan itu, aku melihatnya. Di tepi danau, berdiri seorang pria dengan mata obsidian yang familiar, namun tanpa senyum manipulatif. Dia hanya menatapku, dengan kesedihan yang mendalam.

Dia berkata, dengan suara yang bergetar, "Aku… aku yang mengirimmu ke sini. Aku yang membunuhmu. Tapi aku melakukannya karena aku mencintaimu."

Dan saat itulah aku mengerti. Jian yang pertama, Jian yang membunuhku, bukanlah Jian yang tadi kulawan. Dia adalah Jian yang mencoba melindungiku dari takdir yang lebih buruk—takdir yang akan membuatku menjadi pion dalam permainan para dewa. Dia membunuhku agar aku bisa mendapatkan kekuatan di Dunia Roh, kekuatan untuk mengubah takdirku sendiri.

Tapi, aku tahu, semua itu terlambat. Sekarang Jian menghilang dan menyisakan aku, yang tidak tahu pasti, siapa yang mencintai dan siapa yang memanipulasi?

Aku memejamkan mata, dan mendengar bisikan lembut dari angin:

*Saat bulan memudar, kebenaran akan terungkap, jika hatimu berani melihatnya*.

You Might Also Like: Skincare Terbaik Dengan Harga

Post a Comment

Previous Post Next Post