Aku Mencintaimu dengan Luka, dan Luka Itu Jadi Jembatan Menuju Kekekalan
Malam itu kelam, sekelam arang dosa yang membara di dada Li Wei. Salju turun dengan ganas, setiap butirnya terasa seperti tusukan jarum, mengingatkannya akan pengkhianatan yang mengalir dalam nadinya. Di pelataran kuil usang, asap dupa mengepul, membawa aroma pahit yang menusuk hidung. Di hadapannya, berdiri Qing Mei, wanita yang dicintainya dan dibencinya dengan seluruh jiwa raga.
"Qing Mei," desis Li Wei, suaranya serak tertahan. "Setelah semua ini, kau masih berani menatapku?"
Qing Mei, dengan gaun merah menyala yang kontras dengan putihnya salju, mengangkat dagunya. Air mata membeku di pipinya, bagai kristal es yang tajam. "Li Wei... kau tahu aku tidak punya pilihan."
"Tidak punya pilihan?" Li Wei tertawa hambar. Tawa yang terdengar lebih seperti raungan hewan terluka. "Kata-kata itu sungguh manis terdengar dari bibir seorang pengkhianat!"
Darah menetes dari sudut bibir Li Wei, mewarnai salju di bawahnya menjadi merah. Luka di dadanya, yang diakibatkan pedang Qing Mei beberapa waktu lalu, kembali berdenyut perih. Luka fisik ini tak sebanding dengan luka di hatinya, luka yang menganga akibat rahasia yang baru saja terungkap. Qing Mei, wanita yang ia cintai, ternyata adalah putri dari musuh bebuyutan keluarganya, dalang di balik kematian orang tuanya.
"Aku mencintaimu, Li Wei," bisik Qing Mei, suaranya gemetar. "Tapi aku... aku juga terikat sumpah."
"Sumpah?" Li Wei mencibir. "Cinta seharusnya lebih kuat dari sumpah! Aku memberikan segalanya padamu! Hatiku, jiwaku, kepercayaanku! Dan kau membalasnya dengan... pengkhianatan."
Li Wei maju selangkah, mendekati Qing Mei. Matanya, yang biasanya penuh cinta, kini hanya memancarkan kebencian membara. Di tangannya, tergenggam erat belati perak. Belati yang sama yang pernah ia berikan pada Qing Mei sebagai simbol cinta abadi.
"Kau ingat belati ini, Qing Mei?" Li Wei mengangkat belati itu, cahayanya memantul liar di wajah Qing Mei. "Kau bersumpah akan mencintaiku selamanya. Di atas abu sumpah orang tuaku, kau bersumpah!"
Qing Mei menutup matanya. Air mata mengalir semakin deras, membasahi pipinya. "Bunuh aku, Li Wei. Akhiri penderitaanku."
Li Wei terdiam. Jari-jarinya gemetar memegang belati. Sebagian dirinya ingin memeluk Qing Mei, menciumnya, melupakan semua yang telah terjadi. Namun, sebagian yang lain, yang lebih besar dan lebih dominan, haus akan pembalasan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh kekuatannya. Dengan gerakan cepat dan mematikan, ia menusukkan belati itu... bukan ke jantung Qing Mei, melainkan ke jantung dirinya sendiri.
Qing Mei membuka matanya lebar-lebar. Ia menjerit, berusaha meraih Li Wei yang ambruk di salju. Darah memancar dari dada Li Wei, mewarnai salju di sekitarnya menjadi danau merah yang mengerikan.
"Li Wei! Kenapa... kenapa kau lakukan ini?"
Li Wei tersenyum lemah. "Karena... dengan kematianku, sumpahmu padaku... menjadi kekal."
Li Wei menarik Qing Mei mendekat. Ia mencium bibirnya, ciuman pahit yang terasa seperti ciuman terakhir. Kemudian, dengan sisa tenaganya, ia berbisik, "Aku akan menunggumu di neraka."
Qing Mei memeluk tubuh Li Wei erat-erat, meraung pilu di tengah badai salju. Sumpahnya telah terikat, selamanya terikat pada pria yang dicintainya dan dibencinya. Ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Pembalasan akan datang, bukan dari pedang atau racun, melainkan dari hati yang terlalu lama menunggu... dari dirinya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, Qing Mei, kini menjadi pemimpin sekte yang ditakuti, berdiri di atas makam Li Wei. Angin bertiup kencang, membawa serta debu dan kenangan. Ia menaburkan abu di atas makam itu, abu dari dirinya sendiri.
Sekarang... kita setara.
You Might Also Like: Panduan Sabun Muka Lokal Tanpa Pewarna