Dracin Populer: Cinta Yang Menghapus Darah Dari Pedang



**Cinta yang Menghapus Darah dari Pedang** Hujan di atas makam. Suara rintiknya seperti bisikan lirih arwah-arwah yang bergentayangan, menari di antara nisan-nisan yang dingin. Di sanalah, di bawah payung hitam yang ia genggam erat, Xiao Lan berdiri. Dulu, ia adalah seorang jenderal gagah berani, pedangnya menari di medan perang, menebas musuh tanpa ampun. Namun, malam itu, ia hanya seonggok roh, bayangan yang menolak pergi, terikat pada dunia fana karena sebuah **KEBENARAN** yang tak sempat terucap. Lima tahun lalu, ia mati dalam pertempuran yang *kacau*. Dituduh berkhianat, ditikam dari belakang oleh orang kepercayaannya sendiri. Kata-kata terakhirnya, "Aku tidak bersalah...", tenggelam dalam riuh rendah perang dan ingatan yang memudar. Sekarang, sebagai roh, ia kembali. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk menghantui para pengkhianatnya, melainkan untuk membersihkan namanya, untuk mencari kedamaian. Dunia arwah dan dunia hidup berbaur di sekitarnya. Ia bisa melihat mereka, orang-orang yang masih bernapas, menjalani kehidupan mereka dengan beban yang sama dengan yang ia rasakan dulu. Ia mengikuti jejak masa lalunya, menyusuri jalan-jalan berdebu, menyaksikan pertemuan rahasia, mendengar bisikan-bisikan pengkhianatan. Setiap langkahnya diiringi rasa sakit yang menusuk, **SAMA** seperti luka di dadanya dulu. Ia mencari bukti, potongan-potongan kebenaran yang tercecer. Di kuil yang ditinggalkan, ia menemukan sebuah surat. Surat cinta, bukan untuknya, tapi untuk selirnya, ditulis oleh komandan yang menusuknya dari belakang. Surat itu mengungkap rencana pengkhianatan, sebuah konspirasi untuk menjatuhkannya dan merebut posisinya. Namun, membaca surat itu, Xiao Lan tidak merasakan kemarahan. Ia merasakan *kesedihan*. Kesedihan yang mendalam, karena cinta yang dikhianati, karena persahabatan yang ternoda. Ia mengerti, balas dendam tidak akan mengembalikan hidupnya. Balas dendam hanya akan melanggengkan lingkaran kebencian. Ia mengunjungi makam selirnya, Li Wei. Di batu nisannya, terukir kata-kata, "Cinta yang Tak Terbalas." Xiao Lan berlutut di hadapannya, tetesan air mata (yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia) jatuh membasahi tanah. Ia membisikkan kebenaran, menceritakan tentang surat itu, tentang pengkhianatan dan konspirasi. Ia meminta maaf, karena telah gagal melindungi wanita yang dicintai komandannya. Hujan semakin deras. Xiao Lan merasakan energinya melemah. Tugasnya hampir selesai. Ia telah menemukan kebenaran, dan kebenaran itu telah membebaskannya. Ia tidak akan lagi menjadi roh yang terikat pada dunia fana. Ia akan pergi, menuju kedamaian yang abadi. Di saat-saat terakhirnya, ia melihat bayangan komandan itu berdiri di kejauhan, memandangnya dengan tatapan kosong. Komandan itu tahu, Xiao Lan telah menemukan kebenaran. Komandan itu tahu, ia akan segera menghadapi pengadilan karma. Xiao Lan tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang pertama kali ia berikan sejak kematiannya. Senyum yang mengatakan, "Aku memaafkanmu..." Dan kemudian, ia menghilang, meninggalkan dunia fana, membawa bersamanya beban masa lalu, dan meninggalkan misteri yang menggantung di udara, seperti kabut pagi yang enggan pergi: *Apa yang akan dilakukan komandan itu sekarang?*
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Reseller Dropship

Post a Comment

Previous Post Next Post