Baiklah, ini dia kisah Dracin fantasi berjudul 'Kau menulis surat padaku, tapi membakarnya sebelum kukenal tintanya', dengan sentuhan magis dan misterius: **Kau menulis surat padaku, tapi membakarnya sebelum kukenal tintanya** Di dunia manusia, di mana mentari berlumuran debu dan kota berdinding asap, aku adalah Lin, seorang pustakawan yang hidup dalam bayang-bayang rak buku tua. Aku mencintai lembaran-lembaran yang menguning, kisahkan kisah-kisah yang terlupakan. Namun, takdirku sendiri terasa hampa. Suatu malam, di bawah cahaya bulan yang pucat – *bulan yang mengingat nama*, kata legenda – aku menemukan sebuah lentera. Bukan lentera biasa. Lentera itu terapung di kolam berlumut, nyala apinya menari di atas air, memanggilku dengan bisikan yang tak terucap. Saat kulayarkan tanganku, dunia berputar. Aku terbangun di dunia yang **BERBEDA**. Dunia roh. Di sana, pohon-pohon menjulang tinggi, akar-akarnya menembus langit. Bayangan-bayangan *berbicara*, melantunkan lagu-lagu purba tentang cinta dan pengkhianatan. Di sana, aku bukan Lin, pustakawan biasa. Aku adalah Yue, sang Penjaga Gerbang. Aku memiliki kekuatan untuk memanggil roh, untuk menyentuh takdir. Namun, ingatan tentang duniaku yang dulu terasa kabur, seperti mimpi yang hampir sirna. Seorang pria bernama Wei mendekatiku. Dia adalah panglima perang dengan mata setajam obsidian dan senyum yang membingungkan. Dia mengatakan bahwa aku ditakdirkan untuknya, bahwa aku adalah *api* dalam kegelapannya. Dia memberiku kain sutra bertuliskan puisi cinta yang menyayat hati. Tapi ada yang janggal. Di setiap mimpi, aku melihat serpihan masa lalu: kecelakaan tragis, wajah yang samar, sepucuk surat yang terbakar di dalam perapian. Aku *meninggal* di dunia manusia. Tapi kematianku bukan akhir. Kematianku adalah AWAL. Rahasia mulai terkuak saat aku menemukan ruangan tersembunyi di bawah kuil bulan. Di sana, terpampang gulungan perkamen kuno yang menceritakan kisah seorang Penjaga Gerbang yang dikhianati, seorang panglima perang yang haus kekuasaan, dan janji abadi yang dilanggar. Aku menyadari Wei bukanlah kekasihku. Dia adalah alat takdir. Dia telah **MEMANIPULASI** reinkarnasiku untuk menguasai dunia roh. Surat cintanya adalah *jebakan*, nyanyiannya adalah *ilusi*. Lalu, ada sosok lain. Seorang roh penjaga bernama Xuan. Dia selalu ada di sekitarku, membantu tanpa meminta imbalan. Matanya memancarkan kesedihan abadi, seperti lautan yang kehilangan bulannya. Dia melindungi diriku, membisikkan kebenaran di saat-saat tergelap. Xuan. Nama itu terasa familiar. Seperti kunci yang membuka pintu ingatan. Dialah yang mencintaiku di dunia manusia. Dialah yang menulis surat padaku, tapi membakarnya sebelum aku bisa mengenali tintanya. Dialah yang telah membantuku, melindungiku, membimbingku. Wei ingin menguasai takdir. Xuan ingin melindunginya. Aku ingin *membebaskannya*. Pertempuran terakhir terjadi di bawah bulan yang *mengingat nama*. Aku, Yue, Penjaga Gerbang, berdiri di antara dua dunia. Aku menggunakan kekuatanku untuk menghancurkan ilusi Wei, untuk mengungkap kebohongannya. Wei dikalahkan. Kegelapannya terurai menjadi debu bintang. Xuan mendekatiku. Dia tahu aku akan kembali ke duniaku. Dia tahu bahwa kami mungkin tidak akan bertemu lagi. "Jangan lupakan," bisiknya dengan suara yang penuh dengan cinta dan penderitaan. "Kau adalah bintang di hatiku, selamanya." Aku kembali ke dunia manusia. Kembali menjadi Lin, pustakawan yang hidup dalam bayang-bayang. Tapi sekarang, aku tahu siapa aku. Aku tahu siapa yang mencintaiku. Aku tahu siapa yang mencoba memanipulasiku. Aku memungut pena dan menulis di selembar kertas: "Kau adalah nyala lilin dalam jiwaku, sampai akhir waktu..." *Dan dengan setiap tarikan napasku, aku mengingat bahwa takdir bukanlah akhir, tetapi sebuah awal yang baru.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Tanpa
