Baiklah, inilah kisah dracin emosional dengan judul "Ia Melihatku Online, Tapi Tak Pernah Menyapa", ditulis dengan narasi puitis dan sentuhan dramatis seperti yang Anda inginkan: **Ia Melihatku Online, Tapi Tak Pernah Menyapa** Embun pagi merayap di jendela kamar Liu Wei, memburamkan pemandangan Kota Beijing yang mulai menggeliat. Namun, pandangannya tak tertuju pada hiruk pikuk di luar sana. Matanya terpaku pada layar laptop, pada lingkaran hijau kecil di samping nama 'Xiao Xing'. Ia *online*. Lagi. Setiap pagi, setiap malam, Xiao Xing selalu online. Liu Wei tahu. Ia selalu mengeceknya. Sebuah obsesi yang tumbuh subur di atas tanah kerinduan dan kebingungan. Dulu, mereka adalah sahabat terbaik. Belahan jiwa. Bersama-sama melewati badai masa kecil di pedesaan, bermimpi tentang gemerlap kota, dan berjanji untuk meraihnya bersama. Kini, Xiao Xing ada di sini, di Beijing. Sukses. Terkenal. Dan... *menghindarinya*. "Kau berubah, Xing," bisik Liu Wei, suaranya tercekat. Kata-kata itu terasa seperti duri yang menusuk kerongkongannya. Xiao Xing yang ia kenal dulu adalah matahari. Selalu ceria, selalu hangat, selalu menyinari hidup Liu Wei. Tapi Xiao Xing yang sekarang adalah bintang jatuh. Indah, mempesona, namun jauh dan tak terjangkau. Liu Wei tahu tentang *kebohongan* yang dibangun Xiao Xing. Ia tahu tentang identitas palsu yang dipakainya untuk menanjak karir di dunia hiburan. Ia tahu tentang masa lalu yang berusaha dikuburnya, masa lalu yang di dalamnya terdapat nama 'Liu Wei'. Narasi berjalan pelan, seperti alunan piano yang sedih. Ia mulai menyelidiki. Mencari celah dalam benteng kebohongan yang dibangun Xiao Xing. Setiap informasi yang ia temukan terasa seperti pecahan kaca yang menusuk hatinya. Kebenaran yang ia cari ternyata *menghancurkan*. Xiao Xing memang sukses, tapi kebahagiaannya dibangun di atas pasir. Di atas pengkhianatan. Di atas melupakan akar. Konflik memuncak saat Liu Wei akhirnya berhadapan dengan Xiao Xing di sebuah acara gala. Lampu sorot menyoroti wajah tampan Xiao Xing, wajah yang dulu begitu ia kagumi. Di antara kerumunan, mata mereka bertemu. Ada kebingungan, keterkejutan, dan sedikit... *ketakutan* di mata Xiao Xing. Liu Wei mendekat, langkahnya tenang, tapi setiap langkah terasa seperti pukulan telak bagi Xiao Xing. "Kau melihatku online, Xing," bisik Liu Wei, suaranya dingin seperti es. "Tapi kau tak pernah menyapa." Xiao Xing mencoba menjelaskan, merangkai alasan yang terdengar hambar dan palsu. Tapi Liu Wei tidak mendengarkan. Ia sudah cukup mendengar kebohongan. Balas dendamnya tidak berteriak, tidak merusak. Balas dendamnya adalah senyuman yang ia ukir di bibirnya, senyuman yang menyimpan perpisahan abadi. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Xiao Xing yang terpaku di tengah kerumunan, dikelilingi oleh gemerlap palsu. Enam bulan kemudian, skandal terbesar di industri hiburan China meledak. Identitas palsu Xiao Xing terbongkar. Karirnya hancur. Ia kehilangan segalanya. Dan Liu Wei? Ia hanya tersenyum tipis saat membaca beritanya, di sebuah kedai kopi kecil di Paris. **Mungkin, melupakan memang lebih mudah daripada memaafkan, bukan?**
You Might Also Like: 96 Human Body Svgs For Free Download
