**Senja Berdarah di Gerbang Kota** Hujan menggigil membasahi atap-atap rumah kayu di Kota Terlarang. Aroma tanah basah dan melati yang ditanam Nenek di beranda dulu, tiba-tiba menyeruak menusuk hidung. Aroma yang sama yang selalu menenangkanku saat kecil, kini justru terasa seperti cengkeraman dingin di leher. Di balik tirai sutra yang tipis, aku melihat siluet punggungnya. Punggung tegap yang dulu sering kurangkul, kini terasa seperti dinding batu yang tak mungkin ditembus. Li Wei. Lima belas tahun berlalu sejak malam pengkhianatan itu. Malam di mana janji sehidup semati kami hancur berkeping-keping, ditiup angin malam seperti abu dupa. Malam di mana aku, Mei Lan, kehilangan segalanya. Keluarga, kehormatan, dan yang terpenting, *CINTA*. Dulu, di bawah cahaya lentera yang menari-nari di kuil tua, kami bersumpah akan selalu bersama. Kami berjanji akan melawan arus zaman yang kejam, yang memaksakan perjodohan demi kepentingan politik. Kami adalah sepasang merpati yang terbang bebas di angkasa, tak peduli pada badai yang mengancam. Namun, badai itu datang juga. Dalam wujud Li Wei yang berlutut di hadapan Kaisar, menerima gelar dan kuasa dengan imbalan menikahi Putri Mahkota. Bayangan kami, yang dulu bersatu, patah menjadi dua, terpisah oleh ambisi dan _kekuasaan_. Setiap malam, aku menyusuri jalan-jalan sepi di kota ini, merasakan dinginnya kesepian yang menusuk tulang. Setiap tetes hujan yang jatuh, terasa seperti air mata masa lalu yang belum kering. Aku melihatnya dari kejauhan, menyaksikan kebahagiaannya yang palsu di samping Putri Mahkota. Sementara aku, terkurung dalam sangkar emas bernama *dendam*. Dia pikir aku hanya seorang wanita lemah yang meratapi nasib. Dia pikir aku sudah lama mati, tenggelam dalam lautan keputusasaan. Dia SALAH! Cahaya lentera yang dulu menyinari cinta kami, kini menjadi obor yang membakar api **BALAS DENDAM**. Selama bertahun-tahun, aku merangkai strategi, memanfaatkan setiap kesempatan, mengumpulkan sekutu di balik layar. Aku adalah bayangan yang bergerak dalam kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk *menghancurkan* dunia yang telah merampas kebahagiaanku. Malam ini, senja berwarna darah menyelimuti Kota Terlarang. Suara genderang perang bergemuruh, mengguncang sendi-sendi istana. Dia berdiri di sana, di gerbang kota, memimpin pasukannya. Matanya memancarkan amarah dan kebingungan. Aku berjalan mendekat, menatapnya dengan senyum dingin. "Lama tidak bertemu, Li Wei," bisikku. Dia terkejut. "Mei Lan? Bagaimana mungkin…?" Aku tertawa sinis. "Kau meremehkanku, Li Wei. Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia setelah semua yang kau lakukan?" Dia menggeleng, mencoba menyangkal kenyataan yang terpampang di depan matanya. "Aku… aku terpaksa. Aku melakukan semua ini demi…" "Demi APA? Demi kekuasaan? Demi tahta? Kau telah mengkhianati cintamu, Li Wei. Dan malam ini, kau akan membayar semua itu." Aku mengangkat tangan, memberi isyarat kepada pasukan yang setia padaku. Pertempuran pun dimulai. Darah mengalir deras, membasahi tanah yang sama yang dulu menjadi saksi bisu janji cinta kami. Saat Li Wei terkapar di kakiku, dengan luka di dada dan tatapan putus asa di matanya, aku membungkuk dan berbisik di telinganya, "Kau tahu, Li Wei… ternyata ayahmu yang sebenarnya, adalah…"
You Might Also Like: Tutorial Moisturizer Ringan Lokal Aman
