Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul 'Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka': **Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka** Hujan gerimis menari di atas pusara batu. Setiap tetesnya seperti *air mata* yang tak pernah kering, melukiskan kesunyian abadi. Aku berdiri di sini, di antara dua dunia, arwah yang terikat pada *janji* yang belum terpenuhi. Bayanganku menolak pergi, memanjang dan memudar seiring senja yang merayap. Dulu, aku adalah bagian dari istana yang megah. Bagian dari mimpi yang *hancur*. Dia, lelaki yang kucintai lebih dari mentari, memilih tahta. Ia memilih kekuasaan, dan aku...aku memilih luka yang menganga. *Kematian* menjemputku sebelum bibir ini sempat mengucapkan kebenaran yang terpendam. Kini, aku kembali. Bukan sebagai raga, melainkan sebagai angin yang berbisik, sebagai kabut yang menyelimuti. Aku mencari *jejak* masa lalu, menelusuri lorong-lorong istana yang menyimpan rahasia kelam. Aroma dupa dan intrik masih terasa begitu kuat, membuat dadaku sesak, meskipun aku tak lagi bernapas. Setiap malam, aku mengamati dirinya. Kaisar yang perkasa, namun matanya menyimpan *kesedihan* yang mendalam. Ia duduk di singgasana emas, dikelilingi kemewahan, namun hatinya kosong. Apakah ia menyesal? Pertanyaan itu terus berputar dalam benakku yang tak lagi terikat waktu. Aku menyusuri perpustakaan kerajaan, mencari gulungan tua yang menyimpan *kunci*. Kunci menuju kebenaran yang selama ini disembunyikan. Kertas-kertas rapuh itu menyimpan kisah pengkhianatan, ambisi, dan cinta yang dikorbankan. Aku melihatnya di taman istana, menatap bulan yang pucat. Ia menyentuh kalung giok yang dulu kuberikan padanya. *Kenangan* mengalir seperti sungai yang tak pernah berhenti. Apakah ia masih mengingat janji kita di bawah pohon sakura? Aku mendekatinya, mencoba menyentuh tangannya. Namun, hanya angin dingin yang menyentuh kulitnya. Aku hanyalah *roh*, terperangkap di antara dua dunia. Akhirnya, aku menemukan apa yang kucari. Bukan balas dendam, bukan penyesalan. Melainkan kedamaian. Aku menemukan surat darinya, surat yang disembunyikan dari dunia. Surat yang mengungkapkan *kebenaran*: ia memilih tahta bukan karena ambisi, melainkan karena melindungiku. Melindungi kami berdua dari bahaya yang mengintai. Air mata (walaupun aku tak memiliki tubuh untuk menangis) mengalir dalam keheningan. Kebencianku menguap, digantikan oleh *pemahaman* dan cinta yang tak pernah padam. Aku tahu, tugasku telah selesai. Arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya…
You Might Also Like: Skincare Viral Di Tiktok Langsung Beli
