## Janji yang Tertulis di Langit Kelam Langit Shanghai berlumur abu, senja abadi yang menolak terbit. Di tengah hiruk pikuk pejalan kaki yang nyaris tak bersuara, Xiao Mei berdiri. Tangannya menggenggam erat ponsel butut, layarnya retak seribu. Sinyal hilang timbul, seperti denyut jantung yang sekarat. "Lin Wei," bisiknya, nama itu bagai mantra di tengah kebisingan kota yang mati. Ia ingat janjinya, janji yang terucap di bawah rembulan yang kini entah ke mana: *Bertemu di Jembatan Bund, saat jam berdentang tengah malam.* Namun, jam tak lagi berdentang. Waktu seolah membeku, terperangkap dalam *LOOP ABADI*. Sementara itu, di reruntuhan stasiun luar angkasa Koloni Alpha-9, Kai duduk termenung. Debu kosmik menutupi visinya, memburamkan panorama Bumi yang rapuh. Di depannya, layar hologram berkedip-kedip, menampilkan pesan samar. *Xiao Mei, 2047. Jembatan Bund.* Kai mendesah. Tahun 2047? Itu adalah era ketika Bumi masih ada, sebelum kiamat nuklir meluluhlantakkan segalanya. Ia adalah bagian dari *Proyek Eko*, misi menyelamatkan peradaban dengan melompati dimensi waktu. Ia mencoba mengirim pesan. Jemarinya menari di atas keyboard virtual, mengetik untaian kata-kata yang menyakitkan. "Aku di sini, Xiao Mei. Tapi... aku terlalu jauh." Pesan itu terjebak dalam *sedang mengetik* yang tak berujung. Xiao Mei terus menunggu. Setiap kali sinyal berkedip, harapannya menyala, membara sekejap lalu padam lagi. Ia melihat bayangan-bayangan orang berlalu lalang, wajah-wajah asing yang terasa begitu dekat namun tak tersentuh. Ia mulai menyadari, Lin Wei tidak akan datang. Ia ingat kembali percakapan mereka. Lin Wei selalu berbicara tentang masa depan, tentang teknologi yang bisa menjembatani ruang dan waktu. Ia sering bercerita tentang *Proyek Eko*, tentang harapan baru bagi umat manusia. Mata Xiao Mei terbelalak. Mungkinkah...? Di Koloni Alpha-9, Kai akhirnya berhasil mengirim pesan. Sebuah pesan singkat, terenkripsi, diluncurkan menembus kegelapan antariksa. Saat pesan itu akhirnya sampai ke masa lalu, pesan itu terbaca bukan sebagai kata-kata cinta, tapi sebagai *SEJARAH*. Proyek Eko bukan menyelamatkan peradaban, melainkan menciptakan *ECHO* dari kehidupan yang hilang. Lin Wei bukan kekasih Xiao Mei, melainkan *REPLIKA*. Xiao Mei merunduk, air mata membasahi pipinya. Semua ini hanyalah ilusi, gema dari masa lalu yang berusaha beresonansi di masa depan. Cinta mereka, janji mereka, hanyalah *ALGORITMA YANG RUSAK*. Kemudian, langit semakin kelam. Semua sinyal lenyap. Dunia membisu. *Apakah ini akhir dari semua pesan yang belum sempat terkirim?*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Kosmetik