SERU! Racun Yang Mengikat Jantungku



Oke, inilah kisah dracin pendek dengan bumbu misteri dan pengkhianatan, bergaya bahasa Indonesia: **Racun yang Mengikat Jantungku** Lorong istana sunyi, remang-remang diterangi obor yang menari gelisah. Udara dingin menusuk tulang, membawa serta aroma dupa cendana yang terlalu manis, menyengat. Di ujung lorong, siluet seorang pria berdiri. Jubahnya berwarna *midnight blue*, menyatu dengan kegelapan, hanya wajahnya yang pucat pasi tertangkap cahaya. Wajah yang seharusnya sudah lama membusuk di dasar jurang Seribu Tangisan. "Jiang Wei?" bisik Putri Lian Hua, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lima tahun lalu, Jiang Wei, kekasihnya, jatuh ke jurang, dituduh berkhianat dan meracuni Kaisar. Jiang Wei tersenyum tipis, senyum yang dulu membuat jantung Lian Hua berdebar kini terasa dingin membekukan. "Putri Lian Hua, *lama tak jumpa*." Suaranya lembut, namun menusuk seperti jarum es. "Kau... kau hidup? Bagaimana mungkin?" "Keajaiban, Putri. Atau mungkin... rencana yang disusun dengan *sempurna*." Jiang Wei melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti gema vonis hukuman mati. "Rencana? Apa maksudmu?" Lian Hua mundur, punggungnya membentur dinding batu yang kasar. Ketakutan merayapi setiap inci tubuhnya. "Lima tahun lalu, siapa yang menemukan racun dalam teh Kaisar? Siapa yang berteriak paling keras menuduhku?" Jiang Wei berhenti tepat di depannya. Matanya menatap Lian Hua dalam-dalam, tanpa ampun. "Itu... itu adalah kebenaran! Kau yang meracuni Ayahanda!" Lian Hua berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Benarkah? Atau kau hanya melihat apa yang *ingin* kau lihat? Bukankah kau yang paling menginginkan tahta? Bukankah aku hanya *pion* dalam permainanmu?" Lian Hua terdiam. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Pertemuan rahasia dengan para pejabat korup, bisikan-bisikan tentang cara menyingkirkan saingan, dan Jiang Wei... Jiang Wei yang terlalu mencintainya hingga rela melakukan apa saja. "Aku... aku melakukannya untuk kita!" air mata mulai mengalir di pipi Lian Hua. "Untuk kita? Atau untuk *dirimu sendiri*?" Jiang Wei mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Lian Hua. Sentuhan yang dulu menghangatkan kini terasa membakar. "Racun yang mengikat jantungku, Putri, bukan hanya racun yang kau berikan pada Kaisar. Tapi juga *cintamu*." Lian Hua menatap Jiang Wei dengan tatapan kosong. Kebenaran akhirnya terungkap. Bukan Jiang Wei yang bersalah, tapi dirinya. Dirinya yang haus kekuasaan, dirinya yang tega mengorbankan cinta demi tahta. Jiang Wei menarik tangannya. "Selamat tinggal, Putri." Ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Lian Hua seorang diri dalam kegelapan. Di telinga Lian Hua, terngiang kalimat terakhir Jiang Wei, bagai bisikan hantu: * * *Dan kini, aku tahu, yang teracuni sejak awal bukanlah Kaisar, melainkan... diriku sendiri.* * *
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post