Hujan menggigil menusuk tulang, persis seperti kenangan yang tak henti-hentinya mencabik relung hati. Di antara reruntuhan Istana Giok yang dulu megah, kini hanya menyisakan abu dan bayang-bayang, berdiri seorang wanita, Mei Lan. Gaun sutranya yang berwarna kelabu menyatu dengan langit senja yang muram. Dulu, di istana yang sama, ia adalah selir kesayangan Kaisar, Lin Feng. Cintanya pada pria itu membara, bagaikan api unggun di tengah musim dingin. Namun, api itu dipadamkan oleh pengkhianatan. Fitnah keji merenggut segalanya darinya: gelar, kehormatan, dan yang paling menyakitkan, *cinta Lin Feng*. Lentera di tangannya nyaris padam, cahayanya menari-nari lemah seolah ikut merasakan kepedihan Mei Lan. Setiap tetes hujan yang jatuh di wajahnya adalah air mata yang tak bisa ia bendung. Ia teringat senyum Lin Feng, sentuhannya yang dulu begitu hangat, kini hanya menjadi hantu yang menghantui setiap sudut pikirannya. Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar mendekat. Lin Feng, dengan jubah kebesarannya yang basah kuyup, muncul di hadapannya. Wajahnya tegas, namun matanya menyimpan *sejumput* kerinduan. "Mei Lan," bisiknya lirih, seolah takut memecah kesunyian yang mencekam. "Aku… aku tahu kau di sini." Mei Lan memalingkan wajah. "Apa yang kau inginkan, Kaisar?" suaranya dingin, sedingin es di puncak gunung. Lin Feng menghela napas. "Aku ingin menjelaskan. Aku ingin menebus kesalahanku. Aku..." "Terlambat," potong Mei Lan, nadanya *tajam bagai belati*. Ia menatap Lin Feng dengan mata yang dipenuhi kebencian. "Kau merenggut hidupku, Lin Feng. Kau membuatku hidup dalam neraka selama sepuluh tahun terakhir." Lin Feng terdiam. Ia tahu, kata-kata tak akan mampu menghapus luka yang telah ia torehkan. "Kau pikir aku hanya diam? Menderita dalam kesunyian?" Mei Lan tertawa hambar. "Oh, Kaisar. Kau *salah besar*. Selama bertahun-tahun ini, aku merajut benang-benang balas dendam. Setiap tetes air mata, setiap hembusan napas, aku dedikasikan untuk hari ini." Ia mengangkat lentera tinggi-tinggi, memperlihatkan bayangannya yang memanjang dan patah di atas puing-puing istana. "Dan malam ini, *kau akan merasakan* apa yang kurasakan dulu." Lin Feng menatap Mei Lan, mencoba memahami apa yang akan terjadi. Ia melihat keteguhan di matanya, tekad yang membara yang tak mungkin lagi dipadamkan. "Apa yang kau rencanakan?" tanyanya, suaranya bergetar. Mei Lan tersenyum sinis. "Kau akan segera tahu. Tapi sebelum itu… Tahukah kau, Kaisar, bahwa racun yang membunuh Permaisuri tercinta, sebenarnya... *bukan aku yang membuatnya*?"
You Might Also Like: Cerpen Keren Pedang Yang Menangis Di
