Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin dengan nuansa yang kamu inginkan: **Tangisan yang Menjadi Rindu Palsu** Angin malam Shanghai menusuk tulang, namun Lin Yue, berdiri tegak di balkon penthouse-nya, tampak tak terusik. Pemandangan gemerlap kota di bawah sana, yang dulunya terasa membahagiakan, kini hanya memantulkan kehampaan di matanya. Lima tahun. Lima tahun ia mencintai Zhang Wei dengan segenap jiwa. Lima tahun yang kini terasa seperti ilusi. *_Senyum_* Zhang Wei, yang dulu selalu membuatnya terpukau, kini terbayang sebagai _topeng_ sempurna. _Pelukannya_, yang dulu menghangatkannya di musim dingin, terasa seperti *_racun_* yang perlahan membunuhnya dari dalam. Dan *_janji-janji_* mereka, tentang masa depan yang dibangun bersama, kini hanyalah *_belati_* berkarat yang menikam jantungnya tanpa ampun. Lin Yue menyesap teh melatinya. Ia tak menangis. Tidak lagi. Air matanya sudah mengering, terkuras habis oleh pengkhianatan Zhang Wei. Ia tahu, tentang wanita itu. Wang Mei, penerus perusahaan pesaing, yang jelas-jelas lebih menguntungkan bagi ambisi Zhang Wei. Sebuah pernikahan bisnis, dibungkus dengan senyum palsu dan alasan klise. Namun, Lin Yue tidak bodoh. Ia adalah wanita yang terlatih sejak kecil untuk menyembunyikan emosi. Elegansinya adalah perisai, ketenangannya adalah senjata. Ia tidak akan berteriak, tidak akan meratap. Ia akan membiarkan mereka menikmati kemenangan semu mereka. Lin Yue mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan singkat dikirimkannya kepada seorang kenalan lama di dunia bisnis. Sebuah informasi strategis, tentang kelemahan perusahaan Wang Mei, yang akan ia sebarkan dengan anonim. Sebuah bisikan kecil, yang akan memicu badai besar. Ia tahu, pernikahan Zhang Wei dan Wang Mei akan berjalan lancar. Bisnis mereka akan berkembang pesat. Namun, fondasi mereka akan retak, digerogoti keraguan dan kecurigaan. Mereka akan hidup dalam *ketakutan* konstan, saling menuduh, saling menyalahkan. Mereka akan terjebak dalam sangkar emas yang dibangun atas dasar *_kebohongan_* dan *_pengkhianatan_*. Beberapa bulan kemudian, Lin Yue menghadiri gala amal. Zhang Wei dan Wang Mei hadir, tersenyum canggung di depan media. Mata Zhang Wei menangkap Lin Yue. Ada *keterkejutan*, lalu *penyesalan* yang terpancar jelas. Ia tahu, Lin Yue tahu segalanya. Lin Yue membalas tatapannya dengan senyum dingin. Sebuah senyum yang tidak lagi menjanjikan cinta, tapi *_penyesalan abadi_*. Malam itu, Zhang Wei kehilangan kesempatannya untuk berbisnis dengan investor besar karena informasi tentang kekurangan Wang Mei yang tiba-tiba tersebar luas. Lin Yue kemudian berbisik pada dirinya sendiri, "Ini bukan tentang dendam. Ini tentang keadilan." Namun, ia tahu, jauh di lubuk hatinya, ada *kepuasan* pahit yang terasa seperti anggur berkualitas tinggi: manis, tetapi menyisakan aftertaste yang membakar. Ia meninggalkan pesta, meninggalkan mereka dalam kebingungan dan ketakutan mereka. Balas dendamnya bukan darah, bukan air mata, tapi penyesalan yang akan menghantui mereka selamanya. Di dalam limusin, Lin Yue menatap langit malam Shanghai. Bintang-bintang tampak redup, seolah ikut berduka. Ia menyentuh liontin di lehernya, hadiah dari Zhang Wei dulu. Sebuah liontin berbentuk hati. Ia membukanya dan menemukan foto yang dulunya berharga. Ia menggantinya dengan sebuah foto diri yang memperlihatkan senyumnya yang dingin. Hati yang dingin. Ia menutupnya dan menaruhnya di saku bajunya. Di saat itulah, sebuah kesadaran pahit menyeruak: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: Kelebihan Face Wash Untuk Kulit
