Drama Baru! Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita.



## Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita Hujan kota Jakarta mengguyur kaca jendela apartemenku, serupa air mata yang enggan jatuh. Aroma kopi yang baru diseduh tak sanggup mengusir dingin yang merayap di tulangku. Di layar ponsel, notifikasi dari grup kantor bertubi-tubi muncul, kontras dengan sepinya obrolan kita. *Kau* dulu adalah notifikasi yang selalu kunantikan, sekarang hanya sisa *chat* yang tak terkirim, tersimpan rapi di *draft*. Dulu, di antara hiruk pikuk rapat dan *deadline* yang mencekik, cinta kita tumbuh bagai kaktus di gurun. Aneh, namun indah. Kau, dengan senyum teduhmu, menjadi oase di tengah kekeringan hidupku. Kita berbagi mimpi, rahasia, dan _playlist_ Spotify yang sama. Bahkan, aku masih ingat jelas, saat pertama kali kau menggenggam tanganku di bawah langit Jakarta yang dipenuhi bintang-bintang palsu – bintang yang bersinar karena polusi cahaya. Namun, seiring waktu, genggaman itu terasa semakin longgar. Kau hadir, namun jiwamu entah ke mana. Kau tertawa bersamaku, namun matamu menyimpan rahasia yang tak sanggup kubaca. Aku merasakan kehilangan yang samar, bagai nada sumbang di tengah melodi yang indah. Aku mencoba mencari tahu, mengorek setiap sudut hatimu, namun kau selalu mengelak, menghindar, bagai bayangan yang tak bisa kutangkap. Aku mendapati diriku terjebak dalam labirin pertanyaan. Apa yang terjadi? Siapa dia? Dan mengapa, di setiap senyummu yang dulu begitu tulus, kini tersirat **KEDUSTAAN** yang menyakitkan? Lalu, malam itu tiba. Notifikasi dari aplikasi *email* di ponselku membongkar segalanya. Sebuah proposal merger perusahaan, yang kau rancang diam-diam, di belakangku. Di dalam dokumen itu, tertulis jelas: rencana pemecatan massal, termasuk diriku. *Kau* memegang tanganku, mengucapkan janji cinta, namun di saat yang sama, kau sedang menandatangani akhir kita. Akhir karierku. Akhir kepercayaanku. Akhir segalanya. *** Balas dendamku? Bukan dengan makian atau air mata. Aku memilih jalan yang lebih elegan. Aku menghadiri rapat dewan direksi dengan kepala tegak. Aku mempresentasikan strategi yang lebih brilian, yang menyelamatkan perusahaan dari kerugian yang menganga. Strategi yang membuat rencanamu terlihat picisan dan dangkal. Saat kau menatapku dengan tatapan terkejut dan kalah, aku tersenyum. Senyum yang *dingin*, *tajam*, dan penuh *kepuasan*. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya meninggalkan ruangan, meninggalkanmu dengan kekalahanmu. Di layar ponselku, aku mengetik pesan terakhir. Pesan yang tak akan pernah sampai kepadamu. Pesan yang hanya kubaca sendiri, berulang-ulang. "Terima kasih. Kau telah mengajariku, bahwa cinta dan ambisi, terkadang, tak bisa berjalan beriringan." Aku menekan tombol *delete*. Aku menghapusmu dari hidupku. ...Dan kini, yang tersisa hanyalah sunyi yang **ABSOLUT.**
You Might Also Like: The Ultimate Guide To Deer Hunting

Post a Comment

Previous Post Next Post