Baik, inilah kisah dracin pendek berjudul 'Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi': **Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi** Lorong Istana Timur itu membisu. Dindingnya yang dulu dipenuhi lukisan perayaan, kini hanya menyisakan debu dan bayangan. Kabut tipis menyelinap masuk melalui jendela berukir naga, menciptakan suasana dingin menusuk tulang. Di tengah lorong itu, berdiri seorang pria. Bukan, lebih tepatnya, *bayangan* seorang pria. Rambutnya panjang tergerai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Jubah sutra hitamnya menyapu lantai, meninggalkan jejak air yang berkilauan samar. Sepuluh tahun lalu, semua orang percaya Pangeran Li Wei telah gugur di medan perang, mengorbankan diri demi membela kerajaan. Tapi di sini dia berdiri, hidup kembali. Di ujung lorong, siluet seorang wanita muncul. Selir Agung Mei Lan, wanita yang dulunya menjadi tunangan Pangeran Li Wei. Gaun merahnya bagai bara di tengah kegelapan. "Li Wei?" Suaranya lirih, hampir tak terdengar. Li Wei tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, langkahnya sunyi bagai hantu. Ketika wajahnya tersibak cahaya bulan, Mei Lan terkesiap. Matanya merah membara, bukan merah darah, melainkan merah bara api neraka. "Kau… kau *berubah*." Mei Lan mundur selangkah. "Berubah? Tentu saja. Kematian mengubah segalanya," jawab Li Wei. Suaranya halus, namun menyimpan ***racun*** di setiap suku katanya. "Sepuluh tahun aku terperangkap di antara hidup dan mati. Melihat, mendengar, merasakan... semuanya." "Merasakan apa?" Li Wei tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Merasakan *pengkhianatan*. Merasakan bagaimana kau, Selir Agung, bersekongkol dengan Jenderal Zhao untuk menjebakku. Merasakan bagaimana kau menghendaki kematianku." Mei Lan terhuyung. "Itu… itu tidak benar!" "Tidak benar?" Li Wei mendekat, semakin mendekat. Bau dupa dan mayat merebak dari tubuhnya. "Lalu, siapa yang mengirimkan pesan palsu ke perbatasan? Siapa yang memalsukan surat perintah penarikan pasukan? Siapa yang membayar para pengkhianat untuk menusukku dari belakang?" Air mata mulai mengalir di pipi Mei Lan. "Aku… aku hanya ingin berkuasa. Aku ingin menjadi Permaisuri." "Dan kau rela mengorbankan aku demi tahta?" Mei Lan berlutut. "Ampuni aku, Li Wei! Aku bersumpah akan menebusnya!" Li Wei berjongkok, menatap mata Mei Lan yang dipenuhi ketakutan. Ia mengangkat dagu wanita itu dengan jari-jarinya yang dingin. "Menebus? Kau sudah menebusnya, Mei Lan. Kau sudah memberikan semua yang aku inginkan." "Apa maksudmu?" Li Wei tertawa. Tawa yang mengerikan, tawa yang tidak lagi manusiawi. "Kau pikir aku kembali untuk membalas dendam? Oh, Mei Lan, betapa bodohnya kau. Aku kembali untuk mengambil apa yang *sejak awal memang menjadi milikku*." Ia berdiri, lalu berbalik, meninggalkan Mei Lan yang menggigil di lantai. "Seluruh kerajaan ini… kekuasaan… *semuanya*." Saat Li Wei menghilang di balik kabut, Mei Lan menyadari. Dia bukan korban. Dia hanya pion dalam permainan yang lebih besar. Ia adalah alat untuk membangkitkan *monster* yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Dan malam itu, di lorong Istana Timur yang sunyi, Mei Lan akhirnya mengerti: *Pangeran Li Wei tidak pernah mati. Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan kembali sebagai iblis.*
You Might Also Like: 57 Unlock Art Of Effective Student
