Ini Baru Cerita! Cinta Yang Tak Pernah Diizinkan Berakhir



Tentu, inilah kisah Dracin intens berjudul 'Cinta yang Tak Pernah Diizinkan Berakhir': **Cinta yang Tak Pernah Diizinkan Berakhir** Malam merayap di atas Kota Terlarang, sunyi mencekam bagai bisikan kematian. Salju turun tanpa ampun, menutupi setiap sudut dengan lapisan putih yang menyembunyikan noda merah… darah. Di tengah hamparan dingin itu, berdirilah Mei Lan, matanya membara bagai api yang tak padam. Di hadapannya, berlututlah Li Wei, raut wajahnya dipenuhi penyesalan yang telat. "Kau…," Mei Lan berbisik, suaranya bergetar antara cinta dan kebencian. "Kau membunuh keluargaku. *Kau!*" Li Wei mendongak, air mata membeku di pipinya. Asap dupa dari altar di belakang Mei Lan mengepul, membawa serta kenangan pahit masa lalu. "Mei Lan, aku… aku tidak punya pilihan. Ini adalah perintah." "Perintah?! PERINTAH apa yang lebih tinggi dari KESETIAAN pada darah dagingmu sendiri?!" Mei Lan meraung, suaranya memecah kesunyian malam. Di tangannya, terhunus sebilah belati perak, memantulkan cahaya bulan yang kejam. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang terikat janji suci di bawah pohon sakura yang mekar. Li Wei, putra mahkota yang terpaksa menyembunyikan cintanya, dan Mei Lan, gadis bangsawan yang hidupnya hancur karena intrik istana. Rahasia lama yang terpendam bertahun-tahun kini terbongkar, menghancurkan mimpi indah yang pernah mereka rajut. "Ayahmu… Ayahmu yang merencanakan pemberontakan itu. Aku hanya menjalankan tugas untuk melindungi kerajaan," Li Wei berusaha menjelaskan, tapi terlambat. Kata-katanya tenggelam dalam lautan amarah Mei Lan. "Kebohongan! Ayahku hanya ingin keadilan! Dan kau… kau menghancurkannya dengan tanganmu sendiri!" Mei Lan mengayunkan belatinya. Li Wei tidak melawan. Ia pantas menerima ini. Ia pantas mati di tangan wanita yang sangat dicintainya. Darah memercik di atas salju, mewarnainya dengan warna merah yang menyala. Aroma dupa semakin kuat, seolah membawa doa terakhir bagi dua jiwa yang terperangkap dalam lingkaran setan dendam. Mei Lan menatap jasad Li Wei yang terbaring di hadapannya. Tidak ada air mata, tidak ada penyesalan. Hanya kehampaan yang mendalam. Bertahun-tahun kemudian, Mei Lan menduduki takhta sebagai Maharani. Kekuasaannya tak tertandingi. Namun, di balik senyumnya yang dingin, tersembunyi hati yang terluka. Ia telah membalaskan dendam, tapi balas dendam itu tidak membawa kedamaian. Balas dendam itu hanya menyisakan kehampaan yang abadi. Pada malam bulan purnama, Mei Lan berdiri di balkon istana, menatap hamparan Kota Terlarang yang membentang di bawahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma dupa yang selalu mengingatkannya pada malam itu. Malam di mana ia kehilangan segalanya. Ia telah menunggu terlalu lama untuk membalas dendam. Sekarang, saatnya bagi mereka yang bersalah untuk merasakan sakitnya. "Kirimkan surat itu," titahnya pada seorang kasim yang berdiri di belakangnya. Suaranya tenang, namun mematikan. Seorang kasim itu menunduk hormat. "Siap, Maharani." *** Di pagi hari yang cerah, tiga kepala menggelinding di alun-alun istana. Di atasnya, tergantung pengumuman dengan tinta merah: *Inilah balasan atas pengkhianatan.* Mei Lan tetap berdiri di balkon, angin membelai rambutnya. Ia telah membalas dendam, tapi rasa sakitnya tak kunjung hilang. Mungkin, rasa sakit itu akan menemaninya hingga akhir hayat. *Dan malam ini, para hantu akan menagih janji yang terucap di atas abu.*
You Might Also Like: Drama Abiss Rahasia Yang Tak Lagi

Post a Comment

Previous Post Next Post