Cerpen Terbaru: Senyum Yang Kuingat Sebagai Sumpah



## Senyum yang Kuingat Sebagai Sumpah Jakarta bergemuruh. Bukan gemuruh tepuk tangan, melainkan gemuruh hujan yang menabrak kaca jendela apartemenku. Aroma kopi yang kubuat sendiri, pahit dan pekat, gagal menandingi pahitnya kenyataan yang sedang kurasakan. Di layar ponselku, sebuah nama terpampang. *Lin*. Foto profilnya, senyum manis yang sama seperti yang kuingat, senyum yang pernah kurasa sebagai sebuah **SUMPAH**. Kami bertemu di aplikasi kencan. Klise memang. Tapi di antara jutaan profil, notifikasi Lin terasa berbeda. Dia menyukai puisi, sama sepertiku. Kami bertukar kata-kata, lalu bertukar mimpi. Malam-malam diisi dengan obrolan panjang, membahas film indie, teori konspirasi, dan ketakutan masa kecil. Kami membangun dunia sendiri, dunia yang terasa nyata meski hanya ada di balik layar. Lalu, kami bertemu. Di sebuah kedai kopi kecil di Kemang. Hujan turun seperti sekarang, membasahi jalanan dan perasaan gugupku. Lin tertawa saat melihatku salah tingkah. Tawanya renyah, menenangkan. Saat itu, aku yakin, **INI DIA**. Tapi, 'dia' ternyata sebuah ilusi. Satu bulan penuh kebahagiaan, sebelum semuanya meredup. Chat semakin jarang, pertemuan semakin langka. Alasannya? Kesibukan. Alasan klise yang sama seperti cara kami bertemu. Aku mencoba mengerti, mencoba percaya. Tapi perasaan *kehilangan* ini, samar namun menusuk, terus menghantuiku. Di suatu malam yang sunyi, aku menemukan foto di *feed* Instagramnya. Lin, tersenyum, berpose dengan seorang pria. Captionnya singkat: "Bersama selamanya." Dadaku sesak. Dunianya yang kubangun bersamanya, hancur berkeping-keping seperti kaca yang terjatuh. Aku mencoba menghubunginya. Pesan demi pesan kuketik, lalu kuhapus. Kata-kata makian, kata-kata rindu, semua berputar di benakku. Akhirnya, aku menyerah. Aku membiarkan pesan itu tetap sebagai *sisa chat yang tak terkirim*, saksi bisu kekalahanku. Waktu berlalu. Aku mencoba melupakannya. Tapi senyumnya, senyum yang kuingat sebagai sumpah, terus menghantuiku. Aku mulai mencari tahu tentang pria itu. Pengusaha muda sukses, wajahnya menghiasi majalah bisnis. Mereka sempurna. Terlalu sempurna. Rahasia akhirnya terungkap. Lin bukan hanya sibuk, dia *menikah* dengan pria itu. Pernikahan yang diatur, pernikahan demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Aku hanya menjadi pelarian, sebuah pengisi kekosongan. ***Pelarian!*** Rasa sakit itu berubah menjadi amarah. Bukan amarah membabi buta, tapi amarah yang dingin dan terkendali. Aku punya keahlian. Aku seorang *hacker*. Aku tahu bagaimana cara menghancurkan reputasi seseorang tanpa meninggalkan jejak. Aku bisa membongkar kebohongan mereka, mengungkap semua kecurangan bisnis pria itu. Aku bisa menghancurkan mereka berdua. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku sadar, balas dendam tidak akan mengembalikan apa yang hilang. Itu hanya akan membuatku sama rendahnya dengan mereka. Aku memilih jalan yang berbeda. Jalan yang lebih *elegan*. Aku menemukan album foto pernikahan mereka. Aku mencuri satu foto. Foto Lin tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum yang tidak lagi terasa seperti sumpah. Aku mencetaknya, lalu mengirimkannya ke alamat rumahnya. Di balik foto itu, aku menulis satu kalimat: "Kuharap kau bahagia." Tidak ada yang lain. Kemudian, aku memblokir semua kontaknya. Aku menghapus semua *kenangan* tentangnya. Aku memulai hidup baru. Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah paket. Di dalamnya, sebuah kotak musik. Saat kubuka, terdengar melodi lembut. Melodi yang sama dengan lagu yang pernah kami dengarkan bersama saat hujan turun di kedai kopi itu. Di dalam kotak musik itu, ada sebuah catatan kecil. Hanya satu kata: "Maaf." Aku tersenyum. Senyum pahit, senyum yang sama dengan senyum Lin di foto pernikahan itu. Senyum terakhirku untuknya. Aku membanting kotak musik itu ke lantai. Pecah berkeping-keping. Malam ini, hujan masih turun. Aroma kopi masih sama. Tapi, ada sesuatu yang berbeda. Ada ruang kosong di hatiku. Ruang yang mungkin tidak akan pernah terisi lagi. Ruang yang diisi dengan sebuah pertanyaan: Apakah dia benar-benar bahagia?
You Might Also Like: Kekurangan Pelembab Ringan Lokal Tanpa

Post a Comment

Previous Post Next Post